Radar Bromo,/02/02/2010,
Produksi Tinggi, tapi Kesulitan Pemasaran
Beternak jangkrik bisa menambah pendapatan yang cukup signifikan? Tidak perlu diragukan lagi. Beberapa warga Kelurahan Pohjentrek di Kota Pasuruan sudah membuktikannya. Sayang, meski bisa capai 1 kuintal jangkrik dalam sekali panen, mereka masih kesulitan pemasaran.NUR LAILY A., Pasuruan
—
Sebuah oven buatan dari kayu tampak berdiri kokoh di sudut dapur rumah sederhana milik Ainul Yakin. Salah satu warga Kelurahan Pohjentrek, Kecamatan Purworejo Kota Pasuruan yang mulai serius menggeluti dunia ternak jangkrik.
Oven khusus untuk tempat tumbuh kembang jangkrik itu dibuatnya dari kayu-kayu khusus. Terdiri dari tiga lapisan. Dua lapisan terbawah untuk habitat jangkrik-jangkrik muda yang sudah siap panen. Sedang lapisan teratasnya digunakan sebagai tempat pembesaran telur-telur jangkrik yang besarnya seperti seekor semut yang mungil.
Jangan pernah menghitung berapa banyak jangkrik yang ada di sana. Sebab pemiliknya saja, hanya berani memprediksikan bobotnya sampai 1 kuintal.
Kepada Radar Bromo Ainul Yakin mengaku, terpikir untuk memulai aktivitas baru sebagai peternak jangkrik karena cerita sukses temannya. “Sekarang ini, kabarnya kebutuhan pasar jangkrik sangat besar. Tapi stoknya belum banyak. Makanya setelah lama merantau ke banyak daerah saya mulai kepikiran beternak jangkrik,” ungkapnya kepada Radar Bromo pekan lalu.
Itu diawalinya baru sejak menjelang akhir tahun 2009 lalu. Bersama dengan dua warga lainnya Qohar dan Syamsul, mereka bahu membahu membuat oven yang cukup kuat untuk tempat tinggal jangkrik-jangkrik yang akan merela ternakkan.
Begitu oven dibuat dengan biaya sekitar Rp 1,5 juta, mereka mulai berburu telur jangkrik. Telur-telur yang akan dikembangbiakkan itu mereka dapatkan dari seorang tengkulak.
Dalam kalkulasi modal yang harus dikeluarkan, dananya mencapai Rp 600 ribu. Uang sebanyak itu, untuk membeli kertas khusus yang biasa jadi wadah telur. Media itu memang dianggap paling baik untuk tempat hidup jangkrik karena berpori, sehingga tidak terlampau panas, ataupun lembab.
Agar suhu udara juga membuat jangkrik-jangkrik itu bertahan hidup hingga siap dipanen setelah 25 hari dipelihara, dalam oven juga selalu disiagakan lampu-lampu dop. Setiap hari, dan tidak pernah sekalipun lampu-lampu itu dimatikan.
Sedang untuk makannya, mereka tidak perlu susah mencari jauh-jauh. Sebab, bahan makan jangkrik tidak susah. Cukup batang daun pepaya, daun pepayanya sendiri, ataupun daun singkong, selain itu juga labu siyam, daun meduri, maupun bungkil pisang.
Pekan lalu Radar Bromo datang ke sentra peternakan jangkrik di Pohjentrek ini bersama Kadisperta Kota Pasuruan Asep Suryatna. Saat itu Asep didampingi Mukhlis, stafnya yang bertindak sebagai pembina para peternak jangkrik tersebut.
Berdasarkan pengakuan Ainul Yakin, jangkrik miliknya itu sudah berusia 23 tahun. Tinggal dua hari lagi, mereka sudah siap memanen. Saat ini, untuk harga di pasaran, sekilonya berkisar Rp 18 ribu – Rp 20 ribu.
“Terus terang, meski sudah berhasil beternak jangkrik, kami masih belum yakin dengan pasarnya,” ungkap Qohar, rekan Ainul, sesama peternak jangkrik.
Memang, jangkrik yang sudah siap panen itu sudah dipesan secara khusus. Namun masih sebatas diberikan kepada tengkulak yang sudah siap membeli semua jangkrik yang akan dipanen.
Jika total jangkrik sesuai perkiraan mencapai 1 kuintal, dengan harga pasar Rp 18 ribu/kg, berarti para petani itu bisa mendapatkan penghasilan sampai Rp 1,8 juta.
Kadisperta Asep melihat prospek yang bisa diraih dari sektor ternak jangkrik memang lumayan besar. Dengan modal yang tidak begitu besar, penghasilan yang bisa dikumpulkan peternak cukup menjanjikan.
“Kami perlu memikirkan bagaimana merintis pangsa pasarnya, sehingga peternak tidak hanya bergantung pada para tengkulak saja,” tegasnya.
Dia sudah mempelajari sektor pasar jangkrik yang ternyata cukup potensial untuk suplai kebutuhan ekspor. Sebab, jangkrik dinyatakan cukup diandalkan sebagai pasokan bahan pembuat kosmetik. Selain juga untuk pakan ternak seperto tokek, burung, ataupun ikan.
“Siapa tahu dengan kualitas jangkrik yang sehat-sehat seperti ini, peternaknya bisa mendapatkan pendapatan lebih, bila sudah mampu menjangkau pasar ekspor sekaligus,” harapnya.
Tapi, tentu saja disperta tidak mau terbutu nafsu. Asep menyatakan butuh perencanaan matang, agar potensi ternak jangkrik tidak terlampau mewabah, sehingga memicu booming, yang bisa berakibat buruk pada harga pasar.
Sebab, hukum ekonominya sudah jelas. Jika sebuah barang memiliki persediaan besar dengan permintaan yang sedang-sedang saja, otomatis harganya juga tidak akan cukup menjanjikan. (yud)